Minggu, 4 Maret 2007.
Kritik dalam Gambar MenggelitikTamu tak diundang ini memang bikin repot. Airnya keruh berwarna kecokelatan, menggenang di seluruh penjuru kota. Kaum ibu dibuat belingsatan menyelamatkan rumahnya. Pagar depan dibendung, eh, air bah menerjang dari belakang. Sebel-nya, di tengah suasana panik, Si Upik malah enak-enakan main air.
Kerepotan warga yang kebanjiran itu terangkum dalam kartun karya Jitet Koestana berjudul Tamu Tak Diundang. Karya yang klop dengan derita warga Jakarta terendam banjir itu terpampang di ruang pamer Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. Bersama karya 10 kartunis Asia, Tamu Tak Diundang menjadi bagian pameran "Ragam Isu Lingkungan Hidup di Asia", 10-26 Februari 2007.
Di ajang pameran kartun yang disponsori The Japan Foundation itu, karya para kartunis seperti mewakili gambaran betapa parahnya kondisi lingkungan hidup. Segala isu menyangkut lingkungan hidup tampil menghibur melalui kartun. Dari masalah polusi udara, pencemaran air, banjir, pembalakan kayu, hingga pengawet makanan.
Para kartunis itu adalah Em Sothya (Kamboja), Li Qing (Cina), Mohd. Irfan Khan (India), Jitet Koestana (Indonesia), Yoshiaki Yokota (Jepang), Kong Bo Hyuk (Korea), Zuan (Malaysia), Elizabeth T. Chionglo (Filipina), Thi-wat-wat Pattaragulwanit (Thailand), dan Nhop (Vietnam). Setiap kartunis memiliki fokus kritik khusus terhadap isu lingkungan hidup.
Bisa jadi, lantaran mereka berkecimpung di media di negaranya masing-masing, corak kartunal dan gaya penggambaran mereka hampir sama. Hanya penekanan terhadap isu lingkungan serta jurus pengungkapannya yang menggelitik yang membedakan setiap karya.
Em Sothya, misalnya, menyodorkan kartun yang mirip teknik ilustrasi poster. Kartunis harian Rasmei Kampuchea ini memaparkan secara literer, lurus, dan gamblang persoalan illegal logging, pencemaran air, kekacauan iklim, dan perburuan liar.
Begitu pula Mohd. Irfan Khan. Gambar-gambar kartunis India ini lempang disertai teks yang jelas menyampaikan pesan. Lihat saja salah satu karyanya. Seorang pria tua berlari tersengal-sengal, memimpin rombongan pelari dalam sebuah lomba maraton. Yang menggelitik, dengan kaus bertuliskan semboyan "Run, For Green & Clean City", pria tua itu mengenakan masker di tengah suasana kota yang beratap polusi.
Dari seluruh karya, terlihat perbedaan mencolok dari segi penyampaian pesan. Beberapa kartunis merasa perlu melengkapi karyanya dengan teks atau balon tulisan yang menandakan ucapan tokoh kartun. Em Sothya dan Irfan Khan termasuk dalam kelompok ini bersama Zuan dan Elizabeth.
Para kartunis itu cenderung memperagakan langgam komikal. Dialog dalam kartun mereka cukup menggelitik dan mengundang senyum. Pilihan ini bisa dimaklumi. Zuan yang asli Malaysia berlatar komikus. Ia telah membuat karya komik dalam bentuk serial tersendiri maupun yang menjadi bagian majalah.
Sedangkan Elizabeth, kartunis dari Philippines Daily Inguirer, memang telah lama berkutat dengan corak komik pendek, hingga gaya itu menjadi ciri khasnya. Gaya komik pendek, misalnya, terlihat pada karyanya yang diberi judul Smoke Gets in Your Eyes, Nose, Mouth, Lugs....
Dalam karya itu, sebuah adegan menggambarkan seorang polisi dalam bahasa Tagalog menghardik pria yang sedang merokok. Di Manila memang diberlakukan larangan merokok di tempat umum. "Saya harus menahan Anda karena merokok," begitu kata sang polisi. "Apa! Tapi kenapa?" tanya si pemuda. "No smoking zone," kata polisi.
Jawaban polisi ini kontras dengan setting ilustrasi suasana kota yang memperlihatkan kepulan asap kotor dari angkutan umum dan pembakaran sampah. Di luar karya kartunis ini, kelompok lain, termasuk Jitet Koestana, tampil nihil atau sedikit teks. Selain Tamu Tak Diundang, ilustrator tabloid Senior itu menampilkan karya menggelitik lainnya.
Jitet menggambar Gatotkaca terbatuk-batuk ketika terbang di atas Monas lantaran begitu tebalnya polusi udara. Sindiran menggelitik soal udara juga tampil dalam karya berjudul Aaah... Cool. Dalam kartun ini tergambar begitu sulitnya warga Jakarta kelas pinggiran, yang diwakili seorang ibu bersama putrinya, menghirup udara segar.
Sampai-sampai, untuk memperoleh angin saja, keluarga itu harus berdiri di sepetak lahan kecil, di antara perangkat luar penyejuk udara (AC) yang terpasang di banyak gedung bertingkat. Kartun menggelitik lain juga dapat disimak lewat karya Nhop. Kontributor majalah humor Vietnam, Tuoi Tre Cuoi, ini cukup cemerlang menampilkan pesan hanya melalui gambar.
Karyanya menggambarkan seekor ikan kecil bakal dilahap ikan ebih besar, sementara di belakang ikan besar itu menganga tumpukan sampah berbentuk ikan sangat besar. Kartu ini menjelaskan, betapa sang raja laut pun tak aman dari ancaman sampah. No one can save us but we ourselves, masih milik Nhop, menggambarkan sebuah keluarga --ayah, ibu, dan anak-- yang sedang mengendarai motor bebek.
Saking parahnya polusi udara, si anak sampai harus mengisap udara melalui selang yang terhubung dengan tabung berisi tanaman hijau. Melalui 77 kartun dalam pameran ini tergambar, kerusakan lingkungan memang bukan masalah khas Indonesia, melainkan juga melanda semua negara.
Sigit Indra (Yogyakarta)
[Seni, Gatra edisi 15 Beredar Kamis, 22 Februari 2007]