Wanggudu-(Kabar Anoa)
Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Utara (Konut) menargetkan swasembada beras dalam kurun waktu lima tahun kedepan. Kepala Dinas Pertanian Konut, Sahrudin Sami mengatakan alasan masih perlunya waktu untuk mencapai swasembada karena produksi beras didaerah itu belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, hasil produksi satu hektar sawah hanya sekitaran tiga ton saja.
Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Konut akan beras, masih dipasok dari daerah luar.
"Saat ini untuk memenuhi semua kebutuhan kita masih memasok beras dari Kabupaten Konawe, Konawe Selatan dan Kota Kendari," ujar Sahrudin Sami diruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menurut Sahrudin Sami luasan lahan yang ada dan produktif sekitar 2000 hektare lebih. Itupun merupakan sawah baru yang umumnya baru satu kali tanam. Hasilnya pun tidak maksimal karena saat diproses hasilnya kurang dari tiga ton.
Nah, untuk mengejar target itu tahun 2012 lalu pihaknya mendapat jatah pencetakan sawah baru seluas 500 hektare. Pencetakan sawah baru ini mulai dari Kecamatan Motui hingga Kecamatan Wiwirano.
Sedangkan untuk Langgikima belum mendapatkan jatah. Sebab, wilayah tersebut belum memenuhi persyaratan untuk pembukaan lahan baru. "Wiwirano baru tahun ini kita akan buka yakni di Desa Lamooso seluas 30 hektare untuk percobaan. Sedang untuk Langgikima belum bisa karena lahan yang kita prioritaskan dulu kini telah tertutupi oleh material batu akibat banjir," tukasnya.
Ia berharap dengan penambahan luas area ini, komoditas dan kebutuhan masyarakat bisa balance. Sehingga dapat mencapai produksi enam ton setiap luas lahan yang ada, sekaligus dapat mencukupi kebutuhan beras pertahunnya. Kendati begitu, target swasembada ini juga masih sulit dicapai, karena petani masih terkendala ketersedian infrastruktur, ketersediaan pupuk dan mobilitas petani yang masih terbatas. (KA-05/KA-01)
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Wednesday, January 23, 2013
Aswad Sulaiman Resmikan Hotel Grand Asera
Wanggudu-(Kabar Anoa)
Sebagai daerah otonom baru yang kini berusia enam tahun, Kabupaten Konawe Utara tentunya kerap dikunjungi tetamu. Tetamu pemerintah maupun tetamu investor. Penginapan masih menjadi salah satu kebutuhan utama tetamu tersebut. Sadar akan hal itu, Pemkab Konawe Utara sangat merespon pihak swasta yang menanamkan modalnya untuk membangun penginapan atau hotel. Lihat saja, beberapa pekan lalu Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman didampingi Wakil Bupati Ir.Ruksamin meresmikan Hotel Grand Asera, yang ditandai pengguntingan pita. Seremoni peresmian itu dihadiri Ketua DPRD Konut, Raup dan Ketua Tim Penggerak PKK Konut, Hj Isyatin Syam Aswad Sulaiman, belum lama ini
Bupati Aswad Sulaiman mengapresiasi berdirinya hotel tersebut. Sebab, eksistensi fasilitas penginapan yang ada akan memacu pembangunan di daerah itu. Tumbuhkembangnya pembangunan didukung seluruh komponen. Kata dia, hotel tersebut menjadi ikon kemajuan suatu daerah, dimana bisa menunjang pembangunan dan pemerintahan. "Konawe Utara ini adalah daerah investasi. Umumnya tamu asing mau berkunjung kesini. Nah, untuk menarik mereka maka fasilitas penginapan harus menunjang. Menunjang itu bukan berarti gedungnya harus bertingkat tetapi fasilitas layanan yang tersedia," ujar Bupati Konut pertama pilihan langsung rakyat itu.
Menurut Aswad Sulaiman, pihaknya kerap menerima tawaran sebagai tuan rumah berbagai ivent namun kerap pula ditolak karena terbentur fasilitas perhotelan yang masih minim. "Adanya Hotel Grand Asera ini bisa menjadi pembuka berdirinya banyak hotel didaerah ini. Dengan sendirinya, lapangan kerja terbuka sebesar-besarnya," tambahnya.
Ditempat yang sama, Asruddin pemilik hotel Grand Asera mengatakan hotel yang dibangun ditempat strategis yakni berada dijalur jalan trans Sulawesi dan sangat representatif. Hotel itu memanjakan tetamu dengan beberapa fasilitas berupa ball room, restaurant, cafetaria dan meeting room. "Sebagai langkah awal kita telah menyediakan sebanyak 20 kamar. Dimana nantinya masih akan dikembangkan hingga 30 kamar. Kami juga akan bangun kolam renang sebagai penunjang lainnya," beber Asruddin.
Asruddin merinci 20 kamar ini terdiri dari dua Suite Room, 8 Deluxe Room dan 10 Superior Room. Perbedaan dari tiga jenis kamar ini terletak pada fasilitas yang disediakan. Harganyapun bervariasi, mulai Rp 300 ribu hingga Rp 450 ribu semalam. "Kamar tipe Suite Room tersedia shower,bak berendam dan ruang tamunya. Deluxe room hanya menggunakan shower dan satu bed. Sedangkan untuk superior room tersedia double bed," jelasnya. (KA-05/KA-01)
Sebagai daerah otonom baru yang kini berusia enam tahun, Kabupaten Konawe Utara tentunya kerap dikunjungi tetamu. Tetamu pemerintah maupun tetamu investor. Penginapan masih menjadi salah satu kebutuhan utama tetamu tersebut. Sadar akan hal itu, Pemkab Konawe Utara sangat merespon pihak swasta yang menanamkan modalnya untuk membangun penginapan atau hotel. Lihat saja, beberapa pekan lalu Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman didampingi Wakil Bupati Ir.Ruksamin meresmikan Hotel Grand Asera, yang ditandai pengguntingan pita. Seremoni peresmian itu dihadiri Ketua DPRD Konut, Raup dan Ketua Tim Penggerak PKK Konut, Hj Isyatin Syam Aswad Sulaiman, belum lama ini
Bupati Aswad Sulaiman mengapresiasi berdirinya hotel tersebut. Sebab, eksistensi fasilitas penginapan yang ada akan memacu pembangunan di daerah itu. Tumbuhkembangnya pembangunan didukung seluruh komponen. Kata dia, hotel tersebut menjadi ikon kemajuan suatu daerah, dimana bisa menunjang pembangunan dan pemerintahan. "Konawe Utara ini adalah daerah investasi. Umumnya tamu asing mau berkunjung kesini. Nah, untuk menarik mereka maka fasilitas penginapan harus menunjang. Menunjang itu bukan berarti gedungnya harus bertingkat tetapi fasilitas layanan yang tersedia," ujar Bupati Konut pertama pilihan langsung rakyat itu.
Menurut Aswad Sulaiman, pihaknya kerap menerima tawaran sebagai tuan rumah berbagai ivent namun kerap pula ditolak karena terbentur fasilitas perhotelan yang masih minim. "Adanya Hotel Grand Asera ini bisa menjadi pembuka berdirinya banyak hotel didaerah ini. Dengan sendirinya, lapangan kerja terbuka sebesar-besarnya," tambahnya.
Ditempat yang sama, Asruddin pemilik hotel Grand Asera mengatakan hotel yang dibangun ditempat strategis yakni berada dijalur jalan trans Sulawesi dan sangat representatif. Hotel itu memanjakan tetamu dengan beberapa fasilitas berupa ball room, restaurant, cafetaria dan meeting room. "Sebagai langkah awal kita telah menyediakan sebanyak 20 kamar. Dimana nantinya masih akan dikembangkan hingga 30 kamar. Kami juga akan bangun kolam renang sebagai penunjang lainnya," beber Asruddin.
Asruddin merinci 20 kamar ini terdiri dari dua Suite Room, 8 Deluxe Room dan 10 Superior Room. Perbedaan dari tiga jenis kamar ini terletak pada fasilitas yang disediakan. Harganyapun bervariasi, mulai Rp 300 ribu hingga Rp 450 ribu semalam. "Kamar tipe Suite Room tersedia shower,bak berendam dan ruang tamunya. Deluxe room hanya menggunakan shower dan satu bed. Sedangkan untuk superior room tersedia double bed," jelasnya. (KA-05/KA-01)
Labels:
Ekonomi
Thursday, May 19, 2011
Unaaha Kembali Alami Kelangkaan Solar
Unaaha,(Kabar Anoa)
Unaaha kembali mengalami kelangkaan BBM jenis solar, antrian panjang puluhan kendaran terjadi sekitar 400 meter terjadi di SPBU Unaaha dan antrian terjadi sejak pukul 12.00 wita, hal itu terjadi karena pasokan dari Depot Pertamina belum tiba, di SPBU Unaaha Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe, Kamis (19/5)
Dari pemantauan dilapangan, antrian kendaraan truk dan kendaraan yang menggunakan BBM solar itu, yang terjadi sejak pukul 12.00 wita, dan membuat para sopir terpaksa relah menunggu dan harus menganggur karena kendaraannya tidak bisa beroperasi. dan di SPBU Unaaha nosel pengisian Solar ditutup.
Salah seorang Sopir truk Aco mengaku, dirinya sudah mengantri sejak pukul 12.00 wita namun BBM solar belum tiba dari Depot Pertamina Kendari, sehingga dirinya rela menunggu sampai solar ada. dan tidak bisa mengopresikan kendaraannya, "kita mau apa saya tunggu saja sampai solar ada baru operasikan kendaraanku, karena mau angkut pesanan orang juga tidak bisa kalau solar tidak ada"katanya.(***)
Unaaha kembali mengalami kelangkaan BBM jenis solar, antrian panjang puluhan kendaran terjadi sekitar 400 meter terjadi di SPBU Unaaha dan antrian terjadi sejak pukul 12.00 wita, hal itu terjadi karena pasokan dari Depot Pertamina belum tiba, di SPBU Unaaha Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe, Kamis (19/5)
Dari pemantauan dilapangan, antrian kendaraan truk dan kendaraan yang menggunakan BBM solar itu, yang terjadi sejak pukul 12.00 wita, dan membuat para sopir terpaksa relah menunggu dan harus menganggur karena kendaraannya tidak bisa beroperasi. dan di SPBU Unaaha nosel pengisian Solar ditutup.
Salah seorang Sopir truk Aco mengaku, dirinya sudah mengantri sejak pukul 12.00 wita namun BBM solar belum tiba dari Depot Pertamina Kendari, sehingga dirinya rela menunggu sampai solar ada. dan tidak bisa mengopresikan kendaraannya, "kita mau apa saya tunggu saja sampai solar ada baru operasikan kendaraanku, karena mau angkut pesanan orang juga tidak bisa kalau solar tidak ada"katanya.(***)
Labels:
Ekonomi
Wednesday, May 18, 2011
SPBU Wawotobi di Kecam Mahasiswa
Unaaha, Armin Rumpa(Jurnalis Media Sultra) www.google.co.id
Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Fakultas Hukum dan Komisariat Fakultas Ilmu Administrasi serta Badan Pengelolah Latihan HMI Cabang Unaaha, menggelar aksi di DPRD Konawe dan Polres Konawe, mereka mengecam tindakan Pihak SPBU Wawotobi yang telah menjual BBM bersubsidi ke Industri.Sekum HMI Komisariat Hukum Unilaki Iswandi Salripin dalam orasinya membeberkan, Dari hasil pemantauan selama beberapa bulan terakhir, pihak SPBU Wawotobi No SPBU 74.934.06, telah menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ke Truk milik PT Damai Jaya Lestari (DJL), salah satu Perusahaan yang bergerak disektor Perkebunan Kelapa Sawit di Konawe Utara, dengan harga pembelian standar subsidi seharga Rp 4500,- yang mestinya Truk industri tersebut, tidak diperbolehkan untuk menggunakan BBM subsidi melainkan harus pakai BBM dengan harga keekonomian, karena BBM bersudsidi diperuntukan untuk masyarakat umum yang berhak mendapatkan BBM bersubsidi.
Korlap Masriono dalam orasinya menyatakan, Atas tindakan pihak SPBU Wawotobi dengan delik menyalahgunan niaga bahan bakar minyak yang besubsidi pemerintah, dengan menjual BBM bersubsidi ke Industri, Sebagaimana bunyi pasal 55 UU No 22 tahun 2001 “Setiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan/atau Niaga Bahan Bakar Minyak yang disubsidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp.60.000.000.000,00 (enam puluh miliar rupiah)”.
"Maka kami menduga pihak Pengelolah SPBU Wawotobi dengan No SPBU 74.934.06, telah melanggar pasal 55 UU No 22 tahun 2001, dengan menyalagunan BBM bersubsidi. Dan Pasal 57 ayat (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 adalah “kejahatan” . serta Pasal 58 UU No 22 Tahun 2001,” Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini, sebagai pidana tambahan adalah pencabutan hak atau perampasan barang yang digunakan untuk atau yang diperoleh dan tindak pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi”.Ujar Masriono.
Demikian pula Syamsul Jhais, yang juga Ketua Komisariat HMI Fakultas Ilmu Administrasi Unilaki, meminta agar segera kasus tersebut segera ditindak lanjuti, sesuai dengan undang-undang yang berlaku, dan jika dalam kurun waktu 1 X 24 jam tidak ada tanggapan dari pihak – pihak terkait, maka pihaknya akan melaporkan kepihak Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) di Jakarta, juga akan mensomasi pihak Depot Petamina Kendari, serta akan menempu jalur hukum.
"inikan jelas telah terjadi pelanggaran hukum, dan penegak hukum jangan pernah katakan hal itu tadak ada unsur Pidananya, karena telah menyalahgunakan BBM bersubsidi jelas sekali melanggar UU No 22 tahun 2001, jadi penegak hukum maupun pengambil kebijakan dinegeri ini jangan tutup mata melihat hal itu, apalagi terang-terangan kejadiannya"kata Jhais
Saat menggelar aksi di Polres Konawe massa diterima oleh Wakpolres Konawe Kompol Heru Tri Anggodo, SIk, dan berjanji akan menindak lanjuti permasalahan tersebut "kita akan tindak lanjuti" Janjinya
Sementara itu saat di DPRD Konawe, Ketua DPRD Konawe Keri Saiful Konggoasa mengatakan, akan memanggil SPBU Wawotobi untuk dilakukan dengar pendapat, termasuk dirinya juga sudah menegur SPBU-SPBU yang ada di Konawe, trkait penjualan BBM bersubsidi, juga akan memanggil Dinas pertambangan dan pihak-pihak yang terkait "saya akan panggil semua pihak yang terkait untuk dengar pendapat"kata Kery (***)
Labels:
Ekonomi
SPBU Wawotobi Diprotes Jual BBM Bersubsidi Keindustri
Unaaha, Armin rumpa (Jurnalis Media Sultra)
Sejumlah warga Konawe bersama Forum Insan Cita (FICE) Konawe, memprotes SPBU Wawotobi yang telah menjual Bahan Bakar Minyak Jenis Solar bersubsidi ke puluhan mobil Industri milik PT Damai Jaya Lestasi (DJL), pada Jum'at Sore (13/5), dan sempat terjadi adumulut dengan pihak pengelolah SPBU, tak puas kekesalan warga tersebut dilampiaskan dengan mencabuti dua spanduk yang bertuliskan "BBM Bersubsidi diperuntukan Masyarakat yang berhak mendapatkan Subsidi dari PemerintahMohon Jangan Disalahgunakan BBM Bersudsidi". yang menepel dipagar SPBU Wawotobi.
Kasir SPBU Wawotobi sempat mencak-mencak dan tidak mau diambil gambarnya, ketika sejumlah Wartawan mengabil gambarnya, dan kasir tersebut menanyakan surat izin masuk ke SPBU kepada sejumah Wartawan, sementara itu pihak pengelolah yang berusaha dikonfirmasi terkait penjualan BBM jenis Solar tersebut ke Industri, memilih bumkam dan tidak mau memberikan komentar.
Dari pemantauan media ini dilapangan, sempat terjadi antrian panjang kendaraan yang hendak mengisi BBM, ketika warga tengah memprotes penjualan BBM jenis Solar tersebut ke puluhan Mobil Truk milik PT DJL , dari pemantauan dilapangan pula, saat mobil truk milik PT DJL mengisi BBM terlihat pada nosel pengisian BBM jenis solar tersebut, harga penjualannya sama dengan kendaraan umum Rp 4500.-perliternya.
Warga menuding, pihak SPBU Wawotobi telah melakukan Korupsi karena BBM bersubsidi tersebut seyogyanya dijual kekendaraan umum dan masyarakat, namun pada kenyataannya menjual ke industri dengan harga yang sama Rp 4500,-, dan diberikan kemudahan kepada industi untuk memperoleh BBM ketimbang masyarakat.
"karena SPBU ini telah menjual ke Industri, maka pihak SPBU telah melakukan korupsi, karena yang dijual itu keindusri adalah subsidi dari pemerintah pusat untuk masyarakat, karena tadi mereka bilang tidak melanggar hukum, jadi kita berikan mereka pernyataan untuk tandatangan, tetapi mereka tidak mau tandatangan, jadi ini sudah menjadi referensi untuk kita mengambil jalur hukum dikemudian hari" tegas Ahmad Mubarak Lafelili.
Jadi kata Ahmad, pihak SPBU hanya bertamengkan dengan memasang spanduk bertuliskan "BBM Bersubsidi diperuntukan Masyarakat yang berhak mendapatkan Subsidi dari Pemerintah, Mohon jangan Disalahgunakan"tetapi pihak SPBU telah menyalagunakan BBM bersubsidi, "sudah beberapa kali kami lihat PT DJL mengisi BBM bersubsidi yang menjadi tanggungan negara, uang dari rakyat, bagaimana kami tidak kesal sementara mobil lain yang bukan dari industri tidak diprioritaskan"Ujarnya.
Sementara itu salah seorang sopir Mobil PT DJL, yang tidak mau diketahui nama mengaku, dirinya selalu mengisi BBM jenis Solar di SPBU Wawotobi, namun dirinya mengaku baru menjadi sopir di PT DJL "saya tidak tau berapa kalimi saya isi solar di SPBU ini, saya juga baru jadi sopir di PT DJL"katanya.(***)
Sejumlah warga Konawe bersama Forum Insan Cita (FICE) Konawe, memprotes SPBU Wawotobi yang telah menjual Bahan Bakar Minyak Jenis Solar bersubsidi ke puluhan mobil Industri milik PT Damai Jaya Lestasi (DJL), pada Jum'at Sore (13/5), dan sempat terjadi adumulut dengan pihak pengelolah SPBU, tak puas kekesalan warga tersebut dilampiaskan dengan mencabuti dua spanduk yang bertuliskan "BBM Bersubsidi diperuntukan Masyarakat yang berhak mendapatkan Subsidi dari PemerintahMohon Jangan Disalahgunakan BBM Bersudsidi". yang menepel dipagar SPBU Wawotobi.
Kasir SPBU Wawotobi sempat mencak-mencak dan tidak mau diambil gambarnya, ketika sejumlah Wartawan mengabil gambarnya, dan kasir tersebut menanyakan surat izin masuk ke SPBU kepada sejumah Wartawan, sementara itu pihak pengelolah yang berusaha dikonfirmasi terkait penjualan BBM jenis Solar tersebut ke Industri, memilih bumkam dan tidak mau memberikan komentar.
Dari pemantauan media ini dilapangan, sempat terjadi antrian panjang kendaraan yang hendak mengisi BBM, ketika warga tengah memprotes penjualan BBM jenis Solar tersebut ke puluhan Mobil Truk milik PT DJL , dari pemantauan dilapangan pula, saat mobil truk milik PT DJL mengisi BBM terlihat pada nosel pengisian BBM jenis solar tersebut, harga penjualannya sama dengan kendaraan umum Rp 4500.-perliternya.
Warga menuding, pihak SPBU Wawotobi telah melakukan Korupsi karena BBM bersubsidi tersebut seyogyanya dijual kekendaraan umum dan masyarakat, namun pada kenyataannya menjual ke industri dengan harga yang sama Rp 4500,-, dan diberikan kemudahan kepada industi untuk memperoleh BBM ketimbang masyarakat.
"karena SPBU ini telah menjual ke Industri, maka pihak SPBU telah melakukan korupsi, karena yang dijual itu keindusri adalah subsidi dari pemerintah pusat untuk masyarakat, karena tadi mereka bilang tidak melanggar hukum, jadi kita berikan mereka pernyataan untuk tandatangan, tetapi mereka tidak mau tandatangan, jadi ini sudah menjadi referensi untuk kita mengambil jalur hukum dikemudian hari" tegas Ahmad Mubarak Lafelili.
Jadi kata Ahmad, pihak SPBU hanya bertamengkan dengan memasang spanduk bertuliskan "BBM Bersubsidi diperuntukan Masyarakat yang berhak mendapatkan Subsidi dari Pemerintah, Mohon jangan Disalahgunakan"tetapi pihak SPBU telah menyalagunakan BBM bersubsidi, "sudah beberapa kali kami lihat PT DJL mengisi BBM bersubsidi yang menjadi tanggungan negara, uang dari rakyat, bagaimana kami tidak kesal sementara mobil lain yang bukan dari industri tidak diprioritaskan"Ujarnya.
Sementara itu salah seorang sopir Mobil PT DJL, yang tidak mau diketahui nama mengaku, dirinya selalu mengisi BBM jenis Solar di SPBU Wawotobi, namun dirinya mengaku baru menjadi sopir di PT DJL "saya tidak tau berapa kalimi saya isi solar di SPBU ini, saya juga baru jadi sopir di PT DJL"katanya.(***)
Labels:
Ekonomi
Sunday, March 20, 2011
Pengembang Pasar Edarkan Karcis Illegal
Unaaha, Armin rumpa (Jurnalis Media Sultra)
Kepala Bidang Pajak dan Retribusi Dinas Pendapatan Kabupaten Konawe Era Hartamawansah menyatakan, karcis retribusi yang yang dipungut di Pedangan emperan di Mall Wawotobi adalah karcis illegal karena bukan kewenangan pengembang untuk memungut retribusi tersebut, pasalnya wilayah pemungutan yang harus dilakukan oleh pengembang hanya sebatas Los yang ada di Mall itu.
"kupon atau karcis dari buah poleng ada dua macam yang nilainnya Rp 5000 sampai Rp 15000, dan yang dipungut misalnya dipedagang sayur emperan atau pelataran itu illegal, karena sesuai dengan Perda No 8 tahun 2008, tentang pengelolaan pasar adalah kewenangan pemerintah dalam hal ini Pemda Konawe untuk menark retribusinya bukan swasta"kata Era
dia mengakui, memang penarikan retribusi di Pasar Modern Mall Wawotobi, selain dilakukan oleh Pemerintah juga pihak pengembang juga menarik retribusi, tetapi ada Wilayah masing-masing, untuk pengembang wilayah pada los yang ada didalam Mall tersebut, sementara yang ada dipelataran adalah kewenangan Pemerintah yang menarik retribusinya dan itu sesuai dengan Perda.
Jadi lanjutnya, disini permasalahannya, mestinya pihak pengembang mengetahui hal itu, sehingga tidak terjadi permasalahan seperti penganiayaan yang dialami oleh Staf Dinas Pendapatan dalam hal ini Adhapada alias Dari, saat tengah melakukan penertiban karcis yang beredar karena adanya keluhan pedagang, mengenai penarikan retribusi yang dilakukan dua kali, baik itu dari pemerintah maupun pengembang pasar Mall.
Jadi kata dia, Adhapada saat itu tengah mengadakan penertiban Karcis yang beredar dipasar Mall Wawotobi yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan dan Satuan Polisi Pamong Praja, lalu dianiaya.
"itu bentuk tindakan premanisme, sehingga staf kami jadi korban, seandainya pihak pengembang mengetahui wilayah penarikan retribusinya tidak akan ada retribusi ganda, dan pengainayaan itupun tidak akan terjadi"Ujar Era (***)
Kepala Bidang Pajak dan Retribusi Dinas Pendapatan Kabupaten Konawe Era Hartamawansah menyatakan, karcis retribusi yang yang dipungut di Pedangan emperan di Mall Wawotobi adalah karcis illegal karena bukan kewenangan pengembang untuk memungut retribusi tersebut, pasalnya wilayah pemungutan yang harus dilakukan oleh pengembang hanya sebatas Los yang ada di Mall itu.
"kupon atau karcis dari buah poleng ada dua macam yang nilainnya Rp 5000 sampai Rp 15000, dan yang dipungut misalnya dipedagang sayur emperan atau pelataran itu illegal, karena sesuai dengan Perda No 8 tahun 2008, tentang pengelolaan pasar adalah kewenangan pemerintah dalam hal ini Pemda Konawe untuk menark retribusinya bukan swasta"kata Era
dia mengakui, memang penarikan retribusi di Pasar Modern Mall Wawotobi, selain dilakukan oleh Pemerintah juga pihak pengembang juga menarik retribusi, tetapi ada Wilayah masing-masing, untuk pengembang wilayah pada los yang ada didalam Mall tersebut, sementara yang ada dipelataran adalah kewenangan Pemerintah yang menarik retribusinya dan itu sesuai dengan Perda.
Jadi lanjutnya, disini permasalahannya, mestinya pihak pengembang mengetahui hal itu, sehingga tidak terjadi permasalahan seperti penganiayaan yang dialami oleh Staf Dinas Pendapatan dalam hal ini Adhapada alias Dari, saat tengah melakukan penertiban karcis yang beredar karena adanya keluhan pedagang, mengenai penarikan retribusi yang dilakukan dua kali, baik itu dari pemerintah maupun pengembang pasar Mall.
Jadi kata dia, Adhapada saat itu tengah mengadakan penertiban Karcis yang beredar dipasar Mall Wawotobi yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan dan Satuan Polisi Pamong Praja, lalu dianiaya.
"itu bentuk tindakan premanisme, sehingga staf kami jadi korban, seandainya pihak pengembang mengetahui wilayah penarikan retribusinya tidak akan ada retribusi ganda, dan pengainayaan itupun tidak akan terjadi"Ujar Era (***)
Labels:
Ekonomi
Pemda Konawe Cabut Izin PT MUT
Unaaha,Armin rumpa (Jurnalis Media Sultra)
Perusahaan perkebunan kelapa sawit,PT Mega Usaha Tani (MUT) yang akan berinvestasi di Kabupaten Konawe harus mengurungkan niatnya, Pasalnya izin perkebunan dari pemerintah daerah Kabupaten Konawe yang sudah dikantongi perusahaan yang berganti nama dari PT Damai Jaya Lestari (DJL) menjadi PT MUT tersebut telah dicabut kembali oleh pemerintah Kabupaten Konawe.
"Izin PT MUT sudah dicabut oleh Pemkab Konawe atas persetujuan DPRD, Februari lalu, DPRD menyetujui pencabutan izin PT MUT karena menurut penilaian dan pantauan kami di lapangan perusahaan itu memang belum layak untuk membuka perkebunan di Konawe,"Kata Sekretaris Komisi B DPRD Konawe, Jamaludin Banasiu saat dikonfirmasii, Selasa (15/3)
Jamaluddin mengatakan, wilayah yang akan dijadikan lokasi perkebunan sawit seluas 1.500 hektar yang tersebar dibeberapa Kecamatan antara lain Kecamatan Besilutu, Sampara, dan Pondidaha masuk dalam kawasan Daerah Aliran sungai (DAS) Konaweha.
Kata Dia, Konsekwensinya jika terjadi aktifitas perkebunan sawit di kawasann yang telah direncanakan oleh PT MUT, akan berdampak signifikan pada lingkungan dikawasan DAS tersebut, apalagi wilayah yang diusahakan hanya mencapai 1.500 hektar.
"Mereka tak bisa membangun pabrik di Konawe karena luasan yang diusahakan hanya 1.500 hektar sementara luas areal yang disyaratkan untuk membangun pabrik kelapa sawit mencapai 20 ribu hektar,"ujarnya Jamaludin
Lanjutnya Jamaludin, banyak persyaratan kelayakan lingkungan yang tak bisa dipenuhi oleh PT MUT, buktinya perusahaan tersebut belum mengantongi izin AMDAL. "Sampai saat ini PT MUT belum memiliki izin AMDAL dari Badan Lingkungan hidup," Ujarnya.(***)
Perusahaan perkebunan kelapa sawit,PT Mega Usaha Tani (MUT) yang akan berinvestasi di Kabupaten Konawe harus mengurungkan niatnya, Pasalnya izin perkebunan dari pemerintah daerah Kabupaten Konawe yang sudah dikantongi perusahaan yang berganti nama dari PT Damai Jaya Lestari (DJL) menjadi PT MUT tersebut telah dicabut kembali oleh pemerintah Kabupaten Konawe.
"Izin PT MUT sudah dicabut oleh Pemkab Konawe atas persetujuan DPRD, Februari lalu, DPRD menyetujui pencabutan izin PT MUT karena menurut penilaian dan pantauan kami di lapangan perusahaan itu memang belum layak untuk membuka perkebunan di Konawe,"Kata Sekretaris Komisi B DPRD Konawe, Jamaludin Banasiu saat dikonfirmasii, Selasa (15/3)
Jamaluddin mengatakan, wilayah yang akan dijadikan lokasi perkebunan sawit seluas 1.500 hektar yang tersebar dibeberapa Kecamatan antara lain Kecamatan Besilutu, Sampara, dan Pondidaha masuk dalam kawasan Daerah Aliran sungai (DAS) Konaweha.
Kata Dia, Konsekwensinya jika terjadi aktifitas perkebunan sawit di kawasann yang telah direncanakan oleh PT MUT, akan berdampak signifikan pada lingkungan dikawasan DAS tersebut, apalagi wilayah yang diusahakan hanya mencapai 1.500 hektar.
"Mereka tak bisa membangun pabrik di Konawe karena luasan yang diusahakan hanya 1.500 hektar sementara luas areal yang disyaratkan untuk membangun pabrik kelapa sawit mencapai 20 ribu hektar,"ujarnya Jamaludin
Lanjutnya Jamaludin, banyak persyaratan kelayakan lingkungan yang tak bisa dipenuhi oleh PT MUT, buktinya perusahaan tersebut belum mengantongi izin AMDAL. "Sampai saat ini PT MUT belum memiliki izin AMDAL dari Badan Lingkungan hidup," Ujarnya.(***)
Labels:
Ekonomi
Saturday, March 19, 2011
Sarjana Menganggur di Indonesia Capai Ratusan Ribu Orang
Unaaha, (Armin rumpa Jurnalis Media Sultra)
Angka pengangguran saat di Indoseaa sudah mencapai, 12 sampai 13 juta orang, dan 8 sampai 9 persen diantaranya, adalah alumni perguruan tinggi, bahkan ada yang menyebutkan, 760 ribuan adalah sajana S1 dan siasanya adalah Diploma, hal itu disebabkan karena rendahnya soft skill dan rendahnya minat berwirausaha, hal itu dikatakan Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi Prof H. Basri Wello, MSi baru-baru ini Di Universitas Lakidende.
Kata Basri, Dari dua sumber kementrian berbeda, dalam hl ini Kementrian Pendidikan Nasional dan Kemetrian Tenaga Kerja, ada dua faktor utama yang menyebabkan masih banyaknya sarjana menganggur, kalau dari Dirjen Pendidikan Tinggi dari berbagai survey yang dilakukan, ternyata salah satu faktor utama masih banyaknya, alumni perguruan tinggi menganggur adalah, karena rendahnya soft skill yang dimiliki oleh para sarjana, "jadi bukan karena rendahnya IPK, tetapi rendahnya kemampuan habluminnannas-nya, kemapuan interpersonal comumication, kemapuan berhubungan dengan orang lain dan kemampuan berhubungan dengan diri sendiri, pada saat wawancara dan tes, dan bahkan tes pisikologi banyak gugur, dan disitulah mencerminkan bahwa soft skill rendah" kata Prof Basri Bahkan penelitian diseruh dunia menjukkan bahwa, 80 persen sukses seseorang itu dalam berkarir ditentukan oleh Soft skill, Sumber kedua dari Kementrian Transmigrasi mengatakan bahwa, salah satu faktor utama kenapa banyak sarjana menganggur adalah, karena rendahnya minat para sarjana terjun kedunia usaha, kurang minat berwira usaha, dan sekarang ini kementian Transmigrasi membuat program mencetak minimal seribu orang sarjana baru setiap tahun untuk berwira usaha. "tetapi alangka mengagetkan pada saat dilakukan pendaftaran, di Jakarta saja hanya 60 orang yang mendaftar, untuk program ini, padahal di Jakarta gudangnya Sarjana yang menganggur, ini juga belum diketahui apakah kurang tersosialisasi atau bagaimana, padahal perlu diketahui bahwa sebuah negara, pertumbuhan ekonomi dan employment itu, tingkat employment membuthkan minimal dua persen dari seluruh penduduknya untuk berwirausaha" Jelas Basri Kata dia, Menurut data yang ada jumlah wirausaha yang ada sekarang di Indonesia, baru 560 ribu orang, dari total penduduk 230 juta, jadi kalau dihitung prosentasenya baru 0,20 an persen sekarang, masih jauh dari dua persen, padahal negara tetangga Malaysia, 3 persen, Singapura 7 persen Jepang, korea dan Cina 10 persen, dan sangat Apa artinya itu, kata Prof Basri, bahwa kedua hal ini, harus mendapat perhatian khusus dalam melakukan standar proses pembelajaran yang dilakukan, proses pembelajaran yang hanya menekankan pada peciptaan dan pemburuan pada IPK yang tinggi "sehingga kita hanya menciptakan nanti sarjana-sarjana robot, olehnya mereka pintar tetapi tidak bisa kerjasama dengan orang lain, tidak menghargai karya, peran dan fungsi orang lain, egois dan selalu menganggap dirinya lebih pintar dari orang lain, karena banyak diantara kita, pimpinan perguruan tinggi hanya betul-betul hanya menekankan pada pemetaan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi tidak atau kurang memberikan pengembangan-pengembangan pribadi terutama aspek-aspek soft Skill."Ujar Basri Begitu pula persoalan kewirausahaan, setiap dosen harus mampu mentransfer nilai-nilai kemandirian dan bagaimana kemampuan berwirausaha dan harus menciptakan mata kulaih-mata kuliah khusus tetapi cukup memberikan pemahaman-pemahaman, dan tidak menciptakan manusia-manusia yang konsumtif, "taunya hanya belanjakan uang saja tetapi tidak memikirkan bagaimana memproduksi uang masyarakat kita terkenal dengan masyarakat konsumtif" ujar Basri.(Cr-6)
Angka pengangguran saat di Indoseaa sudah mencapai, 12 sampai 13 juta orang, dan 8 sampai 9 persen diantaranya, adalah alumni perguruan tinggi, bahkan ada yang menyebutkan, 760 ribuan adalah sajana S1 dan siasanya adalah Diploma, hal itu disebabkan karena rendahnya soft skill dan rendahnya minat berwirausaha, hal itu dikatakan Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi Prof H. Basri Wello, MSi baru-baru ini Di Universitas Lakidende.
Kata Basri, Dari dua sumber kementrian berbeda, dalam hl ini Kementrian Pendidikan Nasional dan Kemetrian Tenaga Kerja, ada dua faktor utama yang menyebabkan masih banyaknya sarjana menganggur, kalau dari Dirjen Pendidikan Tinggi dari berbagai survey yang dilakukan, ternyata salah satu faktor utama masih banyaknya, alumni perguruan tinggi menganggur adalah, karena rendahnya soft skill yang dimiliki oleh para sarjana, "jadi bukan karena rendahnya IPK, tetapi rendahnya kemampuan habluminnannas-nya, kemapuan interpersonal comumication, kemapuan berhubungan dengan orang lain dan kemampuan berhubungan dengan diri sendiri, pada saat wawancara dan tes, dan bahkan tes pisikologi banyak gugur, dan disitulah mencerminkan bahwa soft skill rendah" kata Prof Basri Bahkan penelitian diseruh dunia menjukkan bahwa, 80 persen sukses seseorang itu dalam berkarir ditentukan oleh Soft skill, Sumber kedua dari Kementrian Transmigrasi mengatakan bahwa, salah satu faktor utama kenapa banyak sarjana menganggur adalah, karena rendahnya minat para sarjana terjun kedunia usaha, kurang minat berwira usaha, dan sekarang ini kementian Transmigrasi membuat program mencetak minimal seribu orang sarjana baru setiap tahun untuk berwira usaha. "tetapi alangka mengagetkan pada saat dilakukan pendaftaran, di Jakarta saja hanya 60 orang yang mendaftar, untuk program ini, padahal di Jakarta gudangnya Sarjana yang menganggur, ini juga belum diketahui apakah kurang tersosialisasi atau bagaimana, padahal perlu diketahui bahwa sebuah negara, pertumbuhan ekonomi dan employment itu, tingkat employment membuthkan minimal dua persen dari seluruh penduduknya untuk berwirausaha" Jelas Basri Kata dia, Menurut data yang ada jumlah wirausaha yang ada sekarang di Indonesia, baru 560 ribu orang, dari total penduduk 230 juta, jadi kalau dihitung prosentasenya baru 0,20 an persen sekarang, masih jauh dari dua persen, padahal negara tetangga Malaysia, 3 persen, Singapura 7 persen Jepang, korea dan Cina 10 persen, dan sangat Apa artinya itu, kata Prof Basri, bahwa kedua hal ini, harus mendapat perhatian khusus dalam melakukan standar proses pembelajaran yang dilakukan, proses pembelajaran yang hanya menekankan pada peciptaan dan pemburuan pada IPK yang tinggi "sehingga kita hanya menciptakan nanti sarjana-sarjana robot, olehnya mereka pintar tetapi tidak bisa kerjasama dengan orang lain, tidak menghargai karya, peran dan fungsi orang lain, egois dan selalu menganggap dirinya lebih pintar dari orang lain, karena banyak diantara kita, pimpinan perguruan tinggi hanya betul-betul hanya menekankan pada pemetaan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi tidak atau kurang memberikan pengembangan-pengembangan pribadi terutama aspek-aspek soft Skill."Ujar Basri Begitu pula persoalan kewirausahaan, setiap dosen harus mampu mentransfer nilai-nilai kemandirian dan bagaimana kemampuan berwirausaha dan harus menciptakan mata kulaih-mata kuliah khusus tetapi cukup memberikan pemahaman-pemahaman, dan tidak menciptakan manusia-manusia yang konsumtif, "taunya hanya belanjakan uang saja tetapi tidak memikirkan bagaimana memproduksi uang masyarakat kita terkenal dengan masyarakat konsumtif" ujar Basri.(Cr-6)
Labels:
Ekonomi
Tuesday, February 22, 2011
Dishut Konawe Kembali Ditarget PAD Dua Miliar
Unaaha, Armin Rumpa(Jurnalis Media Sultra)
Tahun 2011 Pendapatan Asli daerah (PAD) Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe ditarget dua miliar, sama halnya dengan tahun 2010 juga dua miliar, namun capaian dari target untuk tahun 2010 hanya 39 persen. hal itu dikatakan Sekretaris Dishut Konawe, H.K. Santoso saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (22/2)
Menurutnya, Target PAD tahun 2011 sama halnya dengan tahun 2010 juga sebesar dua miliar namun yang bisa dicapai hanya 39 persen, atau sekitar lebih kurang 780 juta, namun untuk tahun 2011 belum bisa diketahui berapa yang akan dicapai.
"kita belum bisa prediksi berapa yang akan dicapai tahun ini, karena kalau kita paksakan untuk mencapai target tersebut, sama halnya kita dipaksa untuk merusak hutan, mestinya diberikan target kecil, tetapi anggaran pengawasan dilehihkan"kata Santoso.
kata dia, sektor capaian PAD untuk Dishut hanya dari Izin pemenfaatan kayu, untuk lainnya tidak ada, dan untuk izin pemanfaatan kayu tanah milik untuk tahun 2011,di Konawe hanya ada tiga, di Kecamatan Latoma dua Izin yang dikeluarkan dan Kecamatan Tongauna satu izin.
"areal kepemilikan masyarakat, semakin hari semakin sempit, sehingga pemberian izin pemanfaatan kayu milik juga sedikit yang dikelurkan, kita juga tidak mungkin mau paksakan orang untuk menebang kayu"Ujar Santoso (***)
Tahun 2011 Pendapatan Asli daerah (PAD) Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe ditarget dua miliar, sama halnya dengan tahun 2010 juga dua miliar, namun capaian dari target untuk tahun 2010 hanya 39 persen. hal itu dikatakan Sekretaris Dishut Konawe, H.K. Santoso saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (22/2)
Menurutnya, Target PAD tahun 2011 sama halnya dengan tahun 2010 juga sebesar dua miliar namun yang bisa dicapai hanya 39 persen, atau sekitar lebih kurang 780 juta, namun untuk tahun 2011 belum bisa diketahui berapa yang akan dicapai.
"kita belum bisa prediksi berapa yang akan dicapai tahun ini, karena kalau kita paksakan untuk mencapai target tersebut, sama halnya kita dipaksa untuk merusak hutan, mestinya diberikan target kecil, tetapi anggaran pengawasan dilehihkan"kata Santoso.
kata dia, sektor capaian PAD untuk Dishut hanya dari Izin pemenfaatan kayu, untuk lainnya tidak ada, dan untuk izin pemanfaatan kayu tanah milik untuk tahun 2011,di Konawe hanya ada tiga, di Kecamatan Latoma dua Izin yang dikeluarkan dan Kecamatan Tongauna satu izin.
"areal kepemilikan masyarakat, semakin hari semakin sempit, sehingga pemberian izin pemanfaatan kayu milik juga sedikit yang dikelurkan, kita juga tidak mungkin mau paksakan orang untuk menebang kayu"Ujar Santoso (***)
Labels:
Ekonomi
Monday, February 21, 2011
Solar Langka,Puluhan Sopir Truk Mengganggur
Unaaha, Armin Rumpa (Jurnalis Media Sultra)
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar tidak hanya dirasakan petani padi sawah, yang tidak bisa mengoperasikan taktornya untuk membajak sawah mereka, tetapi dirasakan pula oleh puluhan sopir truk di Konawe, pasalnya rata-rata mobil yang digunakan berbahan bakar solar, tidak bisa beroperasi, sehingga mobil truk tersebut hanya diparkir dipinggir jalan.
salah seorang sopir truk Adin mengaku, sudah tiga hari tidak memperoleh solar, dari SPBU, terpaksa truknya hanya parkir dipinggir jalan, tidak lagi beropersi"bagaimana mau jalan, mana lagi mau mengantar bahan bangunan pasir kepelanggan kalau tidak ada solar,jadi lebih baik parkir begini, apalagi truk yang saya gunakan menggunakan tujuh puluh liter solar untuk bisa beropersi"katanya
Adin berharap, agar pemerintah secepatnya bertindak dan mengambil sikap, agar tidak terjadi kelangkaan solar berkepanjangan,"jadi kalau bisa pemerintah bertindak secepatnya supaya tidak terjadi kelangkaan begini"harapnya.
Sopir truk lainnya, yang ditemui yang truknya tengah mogok didepan SMAN 1 Unaaha, Tibi mengaku, dirinya mengalami kesulitan memperoleh solar dari SPBU dan truknya tidak bisa lagi beroperasi, apalagi ada pelanggan pasir yang harus dilayani tetapi tidaknya tidak bisa berbuat banyak dengan langkanya solar"mobil saya mogok, tadi sempat didorong oleh warga"katanya.
Singgi yang juga sopir truk yang ditemui tengah memarkir kendaraannya dipinggir jalan mengaku, pengangkutan barang dari Unaaha tujuan kendari terhambat, pasalnya dirinya kesulitan memperoleh solar, "kita kita bisa beropersi mengangkut barang dari Unaaha ke Kendari, karena sudah dua hari tidak dapat solar, saya juga berharap ada sikaplah dari pemerintah" ujarnya.
sama halnya dengan Sahar, Sopir Truk dari Kolaka tujuan Kendari mengaku, mobil truknya terpaksa diparkir dipinggir jalan dan menunggu sampai ada solar, karena di SPBU tidak memperoleh solar, "kita lagi menunggu solar, karena di Unaaha solar tidak ada, jadi lebih baik kita menunggu, kalau tidak ada solar kita menunggu sampai ada,kalau tidak ada kita sabar saja,karena tidak bisa juga jalan kalau tidak ada solarnya" katanya
Dari pemantauan dilapangan, sejak Jum'at sore sampai minggu mobil truk banyak diparkir dinggir jalan, mereka rata-rata tidak bisa beroperasi karena sulitnya memperoleh bahan bakar solar.(***)
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar tidak hanya dirasakan petani padi sawah, yang tidak bisa mengoperasikan taktornya untuk membajak sawah mereka, tetapi dirasakan pula oleh puluhan sopir truk di Konawe, pasalnya rata-rata mobil yang digunakan berbahan bakar solar, tidak bisa beroperasi, sehingga mobil truk tersebut hanya diparkir dipinggir jalan.
salah seorang sopir truk Adin mengaku, sudah tiga hari tidak memperoleh solar, dari SPBU, terpaksa truknya hanya parkir dipinggir jalan, tidak lagi beropersi"bagaimana mau jalan, mana lagi mau mengantar bahan bangunan pasir kepelanggan kalau tidak ada solar,jadi lebih baik parkir begini, apalagi truk yang saya gunakan menggunakan tujuh puluh liter solar untuk bisa beropersi"katanya
Adin berharap, agar pemerintah secepatnya bertindak dan mengambil sikap, agar tidak terjadi kelangkaan solar berkepanjangan,"jadi kalau bisa pemerintah bertindak secepatnya supaya tidak terjadi kelangkaan begini"harapnya.
Sopir truk lainnya, yang ditemui yang truknya tengah mogok didepan SMAN 1 Unaaha, Tibi mengaku, dirinya mengalami kesulitan memperoleh solar dari SPBU dan truknya tidak bisa lagi beroperasi, apalagi ada pelanggan pasir yang harus dilayani tetapi tidaknya tidak bisa berbuat banyak dengan langkanya solar"mobil saya mogok, tadi sempat didorong oleh warga"katanya.
Singgi yang juga sopir truk yang ditemui tengah memarkir kendaraannya dipinggir jalan mengaku, pengangkutan barang dari Unaaha tujuan kendari terhambat, pasalnya dirinya kesulitan memperoleh solar, "kita kita bisa beropersi mengangkut barang dari Unaaha ke Kendari, karena sudah dua hari tidak dapat solar, saya juga berharap ada sikaplah dari pemerintah" ujarnya.
sama halnya dengan Sahar, Sopir Truk dari Kolaka tujuan Kendari mengaku, mobil truknya terpaksa diparkir dipinggir jalan dan menunggu sampai ada solar, karena di SPBU tidak memperoleh solar, "kita lagi menunggu solar, karena di Unaaha solar tidak ada, jadi lebih baik kita menunggu, kalau tidak ada solar kita menunggu sampai ada,kalau tidak ada kita sabar saja,karena tidak bisa juga jalan kalau tidak ada solarnya" katanya
Dari pemantauan dilapangan, sejak Jum'at sore sampai minggu mobil truk banyak diparkir dinggir jalan, mereka rata-rata tidak bisa beroperasi karena sulitnya memperoleh bahan bakar solar.(***)
Labels:
Ekonomi
Friday, February 18, 2011
Kelangkaan BBM Karena Adanya Pengurangan Stok
Unaaha, Armin Rumpa(Jurnalis Media Sultra)
Kepala Seksi (Kasi) Minyak dan Gas Bumi Dinas Pertambangan Kabupaten Konawe Ir. Andi Rifai menyatakan, terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), karena adanya pengurangan stok yang didistribusikan ke SPBU yang ada di Konawe dari delapan belas liter menjadi lima ribu liter, dari Depot Pertamina.
"yang pertama itu dari Sultra khususnya kita di Konawe memang dibatasi oleh pihak depot, dari delapan belas ribu liter menjadi delapan ribu liter maksimal, solar dengan premium, karena dihawatirkan,ada penumpukkan dengan pelayanan jergen kalau dari SPBU"kata Andi saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (17/2) Andi mengatakan, di SPBU juga melayani petani tetapi yang memiliki surat keterangan dari desanya masing-masing, dan jika surat keterangan tersebut ada, pihak Pertambangan mengeluarkan rekomendasi agar petani tersebut mendapatkan pelayanan di SPBU. "kecuali kalau semacam petani, kalau ada semacam surat keterangan dari Desa, dikelurkan rekomendasi dari pihak pertambangan baru bisa dilayani" Jelas Andi Kata dia, untuk mengatisipasi hal itu, pihaknya telah menurunkan petugas yang akan memantau secara langsung ke SPBU supaya, pihak SPBU mengadakan pembatasan pengisian bahan bakar baik itu premium maupun solar, dan diprioritaskan kepada pengendara baik itu roda empat maupun roda dua. "antisipasi kita dari pihak pemerintah, kita menurunkan petugas untuk memantau,supaya SPBU membatasi dan mengutamakan yang kendaraan roda empat dan roda dua" Ujar Andi Dari pemantauan dilapangan oleh koran ini, di Beberapa SPBU yang ada di Konawe, baik itu di SPBU yang ada di Kecamatan Lambuya, Kecamatan Unaaha, Kecamatan Wawotobi dan Pondidaha, rata-rata SPBU yang ada, melayani pengambilan BBM baik itu solar maupun premium dengan menggunakan Jergen baik lima liter maupun tiga puluh lima liter.(***)
Kepala Seksi (Kasi) Minyak dan Gas Bumi Dinas Pertambangan Kabupaten Konawe Ir. Andi Rifai menyatakan, terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), karena adanya pengurangan stok yang didistribusikan ke SPBU yang ada di Konawe dari delapan belas liter menjadi lima ribu liter, dari Depot Pertamina.
"yang pertama itu dari Sultra khususnya kita di Konawe memang dibatasi oleh pihak depot, dari delapan belas ribu liter menjadi delapan ribu liter maksimal, solar dengan premium, karena dihawatirkan,ada penumpukkan dengan pelayanan jergen kalau dari SPBU"kata Andi saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (17/2) Andi mengatakan, di SPBU juga melayani petani tetapi yang memiliki surat keterangan dari desanya masing-masing, dan jika surat keterangan tersebut ada, pihak Pertambangan mengeluarkan rekomendasi agar petani tersebut mendapatkan pelayanan di SPBU. "kecuali kalau semacam petani, kalau ada semacam surat keterangan dari Desa, dikelurkan rekomendasi dari pihak pertambangan baru bisa dilayani" Jelas Andi Kata dia, untuk mengatisipasi hal itu, pihaknya telah menurunkan petugas yang akan memantau secara langsung ke SPBU supaya, pihak SPBU mengadakan pembatasan pengisian bahan bakar baik itu premium maupun solar, dan diprioritaskan kepada pengendara baik itu roda empat maupun roda dua. "antisipasi kita dari pihak pemerintah, kita menurunkan petugas untuk memantau,supaya SPBU membatasi dan mengutamakan yang kendaraan roda empat dan roda dua" Ujar Andi Dari pemantauan dilapangan oleh koran ini, di Beberapa SPBU yang ada di Konawe, baik itu di SPBU yang ada di Kecamatan Lambuya, Kecamatan Unaaha, Kecamatan Wawotobi dan Pondidaha, rata-rata SPBU yang ada, melayani pengambilan BBM baik itu solar maupun premium dengan menggunakan Jergen baik lima liter maupun tiga puluh lima liter.(***)
Labels:
Ekonomi
Thursday, February 17, 2011
Sebulan Terakhir Solar Langkah Di Unaaha
Unaaha, Armin Rumpa (Jurnalis Media Sultra)
Bahan Bakar Minyak jenis Solar selama sebulan terakhir mengalami kelangkaan, pasalnya stok dari Depot Pertamina yang mestinya setiap harinya berkisar enam belas Ton, tetapi yang terjadi adalah tiga sampai empat hari baru ada pasokan dari depot itupun hanya lima ton, setiap suplay, selain itu, jenis solar juga digunakan oleh industri yang mengambilnya dari SPBU di Unaaha
"disinikan banyak yang gunakan misalnya petani, termasuk home industri, mestinya tidak bisa mengambil disini tetapi kadang-kadang mereka datang ambil, seharusnya tidak boleh, karena memang sudah aturan dari depot karena ada jatahnya, ada khusus mobil yang mengantarkan mereka untuk industri" kata Nasdar yang akrab dipanggil Arnol yang juga karyawan di SPBU Unaaha, saat ditemui di SPBU Unaaha, Rabu (16/2) menurutnya, pasokan dari Depot Pertamina, yang mestinya setiap hari disuplay enam belas ton tetapi pada kenyataannya, tiga sampai empat hari baru ada pasokan,itupun hanya lima ton,sehingga tidak mencukupi kebutuhan BBM jenis solar untuk Unaaha, "karena kurangnya stok BBM Jenis Solar dari depot Pertamina, bahkan tiga sampai empat hari baru datang,itupun hanya lima ton yang didatangkan, mestinya enam belas ton, itupun harus setiap hari untuk mencukupi kebutuhan BBM"kata Arnold Arnol mengatakan, kelangkaan BBM jenis solar tersebut sudah berlangsung selama sebulan terakhir, sehigga menyebabkan antrian panjang "sudah ada satu bulan mengalami kelangkaan, sehingga setiap hari terjadi antrian" Ujarnya salah seorang sopir mobil yang ikut antian Rusli mengaku, dirinya selalu antrian setiap harinya sehingga, dirinya mengharapkan ada perhatian dari pihak yang terkait agar pasokan BBM ke Unaaha tidak mengalami hambatan, "habis solar sejak daripagi, sudah lima jam saya antri, yang saya minta diusahakan BBM solar supaya tidak macet solarnya, karena setiap harinya selalu begini" katanya. (***)
Bahan Bakar Minyak jenis Solar selama sebulan terakhir mengalami kelangkaan, pasalnya stok dari Depot Pertamina yang mestinya setiap harinya berkisar enam belas Ton, tetapi yang terjadi adalah tiga sampai empat hari baru ada pasokan dari depot itupun hanya lima ton, setiap suplay, selain itu, jenis solar juga digunakan oleh industri yang mengambilnya dari SPBU di Unaaha
"disinikan banyak yang gunakan misalnya petani, termasuk home industri, mestinya tidak bisa mengambil disini tetapi kadang-kadang mereka datang ambil, seharusnya tidak boleh, karena memang sudah aturan dari depot karena ada jatahnya, ada khusus mobil yang mengantarkan mereka untuk industri" kata Nasdar yang akrab dipanggil Arnol yang juga karyawan di SPBU Unaaha, saat ditemui di SPBU Unaaha, Rabu (16/2) menurutnya, pasokan dari Depot Pertamina, yang mestinya setiap hari disuplay enam belas ton tetapi pada kenyataannya, tiga sampai empat hari baru ada pasokan,itupun hanya lima ton,sehingga tidak mencukupi kebutuhan BBM jenis solar untuk Unaaha, "karena kurangnya stok BBM Jenis Solar dari depot Pertamina, bahkan tiga sampai empat hari baru datang,itupun hanya lima ton yang didatangkan, mestinya enam belas ton, itupun harus setiap hari untuk mencukupi kebutuhan BBM"kata Arnold Arnol mengatakan, kelangkaan BBM jenis solar tersebut sudah berlangsung selama sebulan terakhir, sehigga menyebabkan antrian panjang "sudah ada satu bulan mengalami kelangkaan, sehingga setiap hari terjadi antrian" Ujarnya salah seorang sopir mobil yang ikut antian Rusli mengaku, dirinya selalu antrian setiap harinya sehingga, dirinya mengharapkan ada perhatian dari pihak yang terkait agar pasokan BBM ke Unaaha tidak mengalami hambatan, "habis solar sejak daripagi, sudah lima jam saya antri, yang saya minta diusahakan BBM solar supaya tidak macet solarnya, karena setiap harinya selalu begini" katanya. (***)
Labels:
Ekonomi
Monday, February 7, 2011
Tekan Ijon Abuki Kucurkan KUR
Unaaha,Armin rumpa (Jurnalis Media Sultra) Untuk menekan Praktek Ijon di Abuki, rencananya tahun ini akan kucurkan Kredit Usaha Ekonomi Rakyat (KUR) dengan bunga rendah guna membantu Petani, Hal itu dikatakan camat Abuki Harmin Ramba, saat di Temui dikantor Daerah, Rabu (2/2)
Menurut Harmin, dengan andanya KUR dengan bunga berkisar 0,7 persen sampai 0,8 persen per bulan, diyakini bisa menekan Praktek Ijon di Abuki, yang juga membebani petani khususnya petani Padi sawah,"tahun ini bisa terealisasi karena pihak Bank sudah meninjauh lapangan"katanya. kata dia, rencananya KUR yang akan diberikan sekitar Rp 5 juta perpetani, dengan persyaratan, sama dengan peminjam umum, dalam hal ini, ada jaminan sertifikat tanah dan lainnya, yang jelas tidak akan membebani petani. Dia berharap, Dengan adanya kucuran KUR dari bank BRI, diharapakan akan membantu petani utamamnya biaya produksi, yang setiap saat selalu meningkat, dan pihaknya juga senantiasa melakukan sosialisasi di tingkat petani untuk menghindari tengkulak "kita berikan pemahaman dari bawah, sekaligus memberikan solusi"ujar Camat Abuki ini. Dia merinci, dengan pendapatan petani sekitar Rp 8 sampai 10 juta perhektarnya,jika panen berhasil, sementara biaya produksi mencapai Rp 3 sampai 4 juta perhektar, dengan meminjam uang dari Ijon dengan bunga 10 sampai 15 persen, akan sangat membebani petani"kalau pinjam uang dengan bunga tinggi, lalu petani gagal panen, apalagi saat ini kepik Hitam merajalelah, petani tidak ada didapat atau akan merugi"kata Harmin (***)
Menurut Harmin, dengan andanya KUR dengan bunga berkisar 0,7 persen sampai 0,8 persen per bulan, diyakini bisa menekan Praktek Ijon di Abuki, yang juga membebani petani khususnya petani Padi sawah,"tahun ini bisa terealisasi karena pihak Bank sudah meninjauh lapangan"katanya. kata dia, rencananya KUR yang akan diberikan sekitar Rp 5 juta perpetani, dengan persyaratan, sama dengan peminjam umum, dalam hal ini, ada jaminan sertifikat tanah dan lainnya, yang jelas tidak akan membebani petani. Dia berharap, Dengan adanya kucuran KUR dari bank BRI, diharapakan akan membantu petani utamamnya biaya produksi, yang setiap saat selalu meningkat, dan pihaknya juga senantiasa melakukan sosialisasi di tingkat petani untuk menghindari tengkulak "kita berikan pemahaman dari bawah, sekaligus memberikan solusi"ujar Camat Abuki ini. Dia merinci, dengan pendapatan petani sekitar Rp 8 sampai 10 juta perhektarnya,jika panen berhasil, sementara biaya produksi mencapai Rp 3 sampai 4 juta perhektar, dengan meminjam uang dari Ijon dengan bunga 10 sampai 15 persen, akan sangat membebani petani"kalau pinjam uang dengan bunga tinggi, lalu petani gagal panen, apalagi saat ini kepik Hitam merajalelah, petani tidak ada didapat atau akan merugi"kata Harmin (***)
Labels:
Ekonomi
Monday, November 8, 2010
Pengembangan Komoditi Rumput Laut Di Sultra
Labels:
Ekonomi,
Kiniwia,
Rumput Laut
Subscribe to:
Posts (Atom)