Monday, May 11, 2009

Penyelenggaraan WOC and CTI Rugikan Nelayan

Penyelenggaraan World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangel Initiative (CTI) di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei 2009 adalah peristiwa bersejarah yang diharapkan memberikan solusi terbaik bagi pengurangan dampak perubahan iklim, khususnya bagi nelayan tradisional dan masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Ironisnya, disamping perkara-perkara mendasar luput dari agenda utama konferensi internasional tersebut. Kami menyampaikan keprihatinan dan protes, karena Konferensi Dunia ini sejak awal telah berupaya membungkam suara-suara nelayan dan masyarakat sipil. Kami mempertanyakan keberadaan Konferensi Kelautan Dunia ini akan mampu menjawab masalah dampak perubahan iklim.

Sejak Jum’at, 9 April 2009, aparat pemerintah dan keamanan Sulawesi Utara telah melakukan sejumlah pelarangan sepihak terhadap persiapan pertemuan Aliansi Manado. Aparat juga menekan pemilik lokasi, dimana Aliansi Manado akan menyelenggarakan pertemuan, dan akhirnya secara sepihak pula membatalkan penggunaan lokasi tersebut. Aliansi Manado merupakan Aliansi organisasi nelayan  dan masyarakat sipil lokal, nasional dan internasional yang bertujuan memberi informasi aktual seputar masalah-masalah nelayan dan kelautan, pentingnya kelestarian ekosistem laut serta solidaritas dan hak-hak nelayan.

Tak hanya itu, aparat keamanan melakukan intimidasi dengan mendatangi kelompok-kelompok Nelayan dengan mengajukan berbagai pertanyaan, yang membingungkan dan tidak mendasar. Aparat keamanan juga datang di penginapan peserta Aliansi Manado, serta melakukan kegiatan yang membuat peserta merasa tidak nyaman dan memasuki telah memasuki wilayah-wilayah privasi para peserta. Mulai mengambil gambar peserta, mengajukan pertayaan-pertanyaan hingga memaksa mendapatkan dokumen dan daftar anggota dan peserta kegiatan Aliansi Manado.

Aparat pemerintah dan keamanan juga melakukan tekanan terhadap pemilik tanah tempat penyelenggaraan Forum Kelautan dan Keadilan Perikanan berlangsung. Bahkan pemilik hotel Kolongan Beach, yang membuat pertemuan-pertemuan Aliansi Manado tak bisa berjalan sesuai rencana.
 
Di Teluk Manado para nelayan juga mengeluhkan penyelenggaraan WOC-CTI yang membatasi gerak mereka melaut. Sejak dua hari sebelum penyelenggaraan WOC-CTI, nelayan telah mendapatkan himbauan untuk tidak melaut, bahkan ada upaya sweeping  terhadap nelayan-nelayan di wilayah Teluk Manado tersebut.
 
Kami menuntut pemerintah RI dan kepanitian WOC–CTI untuk segera menghentikan upaya-upaya menghambat, menghalangi dan mengintimidasi anggota Aliansi Manado dan nelayan-nelayan di Sulawesi Utara umumnya. Kami berpendapat bahwa upaya-upaya yang ditempuh aparat keamanan maupun pemerintah  telah mencederai krebidilitas WOC-CTI sebagai Forum Internasional yang partisipatif dan transparan. Dan  Kami mendesak dipenuhinya hak kebebasan untuk berkumpul dan berpendapat dalam menyuarakan kepentingan masyarakat sipil terutama kelompok nelayan!
 
Hormat Kami,

1. Berry Nahdian Furqan, Direktur Eksekutif WALHI/ FoE Indonesia, Jakarta
2. Siti Maemunah, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) – Jakarta
3. Riza Damanik, Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) – Jakarta
4. Rignolda Jamaludin, Perkumpulan KELOLA, Manado Sulawesi Utara
5. Yul Takaliwang, Yayasan Suara Nurani (YSN), Manado Sulut
6. Revaldi Koleangan, Aliansi Masyarakat menolak Limbah Tambang (AMMALTA), Manado
7. Yahya La Ode, Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Utara, Manado Sulawesi Utara
8. Chalid Muhammad, Institut Hijau Indonesia – Jakarta
9. Deddy Ramanta, Komite Persiapan Organisasi Nelayan Nasional Indonesia (KPNNI)
10.Ruddy Handiko, Solidaritas Nelayan Arakan (SINAR) – Sulawesi Utara
11.M. Karim (PKP2M)
12.Pepe (Southeast Asia Fish for Justice, SEAFish)

Sunday, May 10, 2009

14 Warga Asing Ditangkap

By Line Dedy Kurniawan --- Aparat kepolisian di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, kembali menangkap belasan warga asing asal Afghanistan dan Pakistan. Seluruh warga asing itu ditangkap di sebuah rumah warga yang mereka kontrak di jalan Betoambari, Lorong Hoga, Kota Baubau.

Selain diduga menggunakan dokumen keimigrasian palsu, dari hasil pemeriksaan polisi, empat warga diantaranya bahkan tak memiliki paspor.

Seluruh warga asing itu masing-masing 13 berasal dari Afghanistan dan satu orang dari Pakistan. Saat ini, warga asing yang seluruhnya lalki-laki dewasa itu diinapkan di aula salah satu hotel yang ada di Kota Baubau, sambil menunggu proses pemeriksaan mereka selesai.

Soal penempatan warga asing tersebut di hotel, pihak kepolisian enggan berkomentar. Kepala Kepolisian Kota Baubau, AKBP Jafri Edy, menolak memberikan keterangan kepada wartawan. Ia juga juga menolak menjelaskan alasan polisi melakukan penangkapan.

Sebelumnya, pada awal Maret lalu, kepolisian di Baubau menangkap 40 orang warga asal Afghanistan di dermaga pelabuhan murhum saat sedang bersiap berlayar menuju ke Australia.

Saturday, May 9, 2009

Ketua PAN Dipenjara, Pendukungnya Ngamuk

By Line: Dedy Kurniawan ---

Belasan massa pendukung Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Buton mengamuk di jalan raya menyusul keputusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara yang menolak pengajuan banding Ketua PAN Kabupaten Buton, Umar Samiun, atas vonis enam bulan penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Baubau.

Pekan lalu, Umar Samiun dijatuhi vonis enam bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Baubau karena terbukti membagi-bagikan uang kepada warga saat menggelar kampanye pada pemilu legislatif lalu.

Atas vonis tersebut, Umar Samiun yang juga menjabat selaku Ketua DPRD Buton, langsung mengajukan banding namun ditolak oleh Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara.

Penolakan tersebut langsung memicu kemarahan belasan pendukung Umar Samiun. Mereka lalu mengamuk dengan cara membanting sejumlah kursi dan aksi bakar ban. Para pendukung Ketua PAN Buton ini juga meletakkan sejumlah batu besar di jalan raya. Akibatnya tak satu pun kendaraan yang berani melintas di sekitar lokasi kejadian.

Para pendukung Ketua PAN Buton ini menuntut pimpinan mereka dibebaskan dari hukuman. Mereka mengancam, jika pimpinan mereka tetap dipenjara, kekacauan akan terjadi di Kabupaten Buton dan Kota Baubau.

Tuesday, May 5, 2009

Istri Korban Pembunuhan Ngamuk di Pengadilan

By Line : Dedy Kurniawan

Sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Kolaka, Sulawesi Tenggara, berakhir ricuh. Usai sidang, istri korban pembunuhan mengamuk hingga di luar ruang sidang karena tak menerima vonis majelis hakim yang dianggapnya ringan. Sejumlah aparat polisi dan kerabat korban bahkan sempat kewalahan menenangkan istri korban.

Suriani, 29 tahun, tak dapat menahan kemarahannya. Ia sangat kecewa dengan putusan majelis hakim yang hanya menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada pembunuh suaminya.Sambil berteriak-teriak menyebut Hasan, nama terdakwa pembunuh suaminya, Suriani terus meronta. Ibu satu anak itu bersikeras berdiri di depan mobil tahanan milik kejaksaan yang akan ditumpangi Hasan menuju ke lembaga pemasyarakatan kolaka untuk menjalani hukumannya. Meski sempat berhasil ditenangkan, namun amukan Suriani tak berhenti. Walau kedua tangannya dipegangi sejumlah kerabatnya, ia terus meronta dan berteriak-teriak menyebut nama Hasan, pembunuh suaminya.

Peristiwa pembunuhan itu sendiri terjadi pada tanggal 7 Januari 2009 lalu. Saat itu, terdakwa Hasan usai berpesta minuman keras tanpa sebab langsung mengamuk sambil mencabut sebilah badik.

Korban Yusuf, suami Suriani, yang kebetulan sedang berjalan bersama empat orang rekannya usai bekerja di kebun mereka, langsung ditikam Hasan sebanyak dua kali. Akibatnya korban tewas setelah sebelumnya sempat sehari dirawat di rumah sakit.

Jangan Beli Selagi Lapar

By Line : ZATNI ARBI (Pengamat Teknologi Informasi)

Jadi, rupanya laci meja kerja Anda penuh dengan gadget. Ada beberapa pemutar MP3. Ada PDA yang baterainya sudah lama tidak bisa di-”recharge” lagi, ada beberapa kamera digital beresolusi 1 dan 2 megapiksel dengan aksesoris lengkap. Ada alat perekam digital yang menggunakan MiniDisc. Ada keyboard untuk PDA yang sudah lama pensiun itu. Ada entah apa lagi Menurut pengakuan Anda, rata-rata 60% dari uang saku Anda setiap bulan habis untuk membeli gadget baru. Ketika proyektor digital model baru diluncurkan, Anda langsung membelinya. Mengapa tidak? Anda punya seribu alasan untuk berinvestasi. Antara lain, untuk menunjang produktivitas. Anda membutuhkan proyektor untuk memberikan pelatihan, kata Anda. Padahal, sebenarnya Anda hanya memberikan pelatihan sekali dalam tiga bulan. Itupun hanya untuk beberapa jam Selebihnya, proyektor dipakai untuk memutar film DVD. Anda lalu meyakinkan diri bahwa Anda membutuhkan smartphone yang terbaru dengan fitur push e-mail, padahal inbox Anda lebih banyak dipadati oleh junk e-mail. Anda rupanya tidak bisa menahan nafsu setiap kali melihat produk baru. Begitu ada ada yang anyar, ingin langsung memilikinya.

Akibatnya, meski digelari ”gadget freak” oleh teman sekantor, tabungan Anda di bank selalu kosong. Jangan malu. Anda tidak sendirian. Dulu saya juga seperti itu. Dan banyak lagi pria lain yang seperti kita. Kalau kita tidak bisa mengerem, mungkin malah seluruh penghasilan bisa habis untuk elektronika, terutama peralatan digital. Komputer baru, peripheral baru, peranti lunak baru layanan-layanan baru seperti mobile TV dan traffi c report. Kita selalu punya alasan untuk menikmatinya.

Di pesta ataupun di restoran buffet, pernahkah Anda mengambil begitu banyak makanan sehingga Anda tidak sanggup menghabiskannya? Makanan jadi terbuang. Padahal, nenek kita dulu selalu mengingatkan bahwa membuang makanan adalah dosa. Mubazir.

Namun, bagaimana lagi? Anda mengambil makanan itu pada saat sedang lapar. Sebuah artikel menarik di Harvard Business Review edisi September 2007 punya tip yang menarik. ”Don’t shop when you’re hungry,” katanya.

Awalnya nasihat ini ditujukan kepada mereka yang berbelanja di supermarket, tapi sebenarnya berlaku universal. Artikel di HBR ini, misalnya, tidak berbicara soal mengambil makanan di restoran ”makan sepuasnya,” belanja di supermarket, ataupun membeli gadget ketika jalan-jalan di pusatpusat penjualan elektronika.Artikel yang berjudul ”Rules to Acquire By” dan ditulis Bruce Nolop, intinya berbicara tentang pengalaman perusahaannya dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan lain untuk mencapai sasaran strategisnya. Tetap saja ada persamaan antara akuisisi perusahaan dengan belanja gadget. Keduanya ternyata boleh jadi dilakukan secara impulsif. Namanya juga sudah jatuh cinta. Perusahaan yang hendak diakuisisi tampak begitu menjanjikan. Demikian pula gadget yang terpajang di etalase itu kelihatan begitu ”cool”.

Di tahun 2004, Clerical Medical (www.clericalmedical. co.uk) di Inggris melakukan polling online. Hasilnya cukup di luar dugaan. 62% responden pria mengaku berbohong pada pasangan mereka mengenai belanja impulsif yang mereka lakukan. Dan, apa lagi yang mereka beli kalau bukan peralatan elektronis?

Kendalikan Selera
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengontrol nafsu belanja gadget. Pertama, bertanyalah dengan jujur pada diri Anda apakah peralatan yang sudah dimiliki benarbenar tidak dapat digunakan lagi? Tip kedua, jadwalkan belanja gadget Anda.

Ponsel model baru muncul hampir setiap minggu. Kalau Anda tidak termasuk daftar incaran KPK, tentu tidak akan membeli ponsel baru setiap kali model baru diluncurkan. Anda akan lebih mampu mengendalikan belanja gadget kalau berdisiplin memberi waktu dua tahun sebelum menggantinya dengan yang baru, misalnya.

Penjual gadget biasanya membujuk Anda untuk sekalian membeli aksesoris. Pancingannya adalah potongan harga khusus atau cerita tentang stok yang sangat terbatas. Situs web dan majalah seperti PC Media yang sedang Anda baca ini juga bisa membantu. Sebelum belanja gadget baru, bacalah dulu berbagai ulasan mengenai keunggulan dan kelemahan gadget yang tengah menggoda Anda itu. Siapa tahu hanya cantik di luar. Dan jangan lupa, kegembiraan kita dengan gadget baru biasanya hanya berusia dua hari sampai seminggu Setelah itu, usang karena Anda tidak merasa lapar lagi. Oleh karena itu, memang benarlah kata mereka: “Jangan belanja ketika sedang lapar.”