Wednesday, June 12, 2013

Republika - Menikmati Keindahan Kota Nice

Minggu, 6 Agustus 2006.



Menikmati Keindahan Kota Nice





Para pengusaha dunia datang ke kota ini dengan menggunakan kapal pesiar atau jet pribadi.













Keindahan Prancis ternyata bukan hanya pada Menara Eifel dan Paris sebagai kota mode. Cobalah menyusuri ke bagian selatan kelak bertemu sebuah kota kecil yang menawan, yaitu Nice. Kota di tepian Laut Tengah, antara Marseille dan Genoa yang dikeliling bukit ini sangat terkenal keindahan pantainya Cote D'Azur serta bangunan tua bersejarah.

Pantai di Nice sangat bersahabat. Karena itu tak heran dari sebelum matahari terbit hingga larut malam, kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Letaknya sangat strategis di pinggir jalan besar (boulevard), di seberangnya berderet apartemen dan hotel mewah menghadap ke laut. Selain penginapan, bertebaran pula restoran, kafe, dan taman tempat mejeng para pengunjung.

Antara pantai dengan jalan raya dibatasi tembok setinggi tiga meter. Selama musim panas, sejak matahari terbit hingga sore, di sepanjang pantai penuh dengan wisatawan berjemur dan berenang. Namun para pelancong tidak bisa sembarangan menghamparkan alas untuk berjemur, karena ada kawasan tertentu yang sudah dikavling milik hotel di sekitar kawasan pantai.

Menjelang matahari terbenam, pantai di kota modren ini berubah fungsi menjadi kawasan sport dan bermain. Sepanjang pelataran balkon pantai dipenuhi orang jonging , roller blade, skate board, basket, bersepeda, atau mengajak anjing bermain.

Uniknya kota julukan The French Riviera ini letaknya menjorok seperti tanjung dan ombaknya tidak terlalu besar. Pantai itu diapit antara bandara udara dengan pelabuhan kapal-kapal pesiar. Makanya, tak heran sambil berjemur para turis bisa menikmati pesawat terbang berselewiran di atas laut. Demikian juga dengan kapal-kapal pesiar mewah melintas di tengah laut menjadi pemandangan tersendiri.

Abad ke-14, Nice la Belle adalah sebuah kerajaan tersendiri di luar Prancis. Sejak dulu, kota ini terkenal keindahan alamnya. Hampir seluruh pelukis ternama dunia di masa itu, di antaranya Picasso, pernah menikmati kota ini. Tahun 1790-an, Raja terkenal Prancis, Napoleon, mencaplok Nice, baru tahun 1800-an negeri berpenduduk 933.080 (sensus 1999) bergabung dengan Prancis melalui referendum.

Daya tarik Nice luar biasa, bukan hanya pantai dengan bukit modren yang memikat melainkan juga bangunan peninggalan bersejarah. Istana atau puri mirip di negeri dongeng masih bertebaran di kota ini. Bangunan tua dan museum-museum bekas peninggalan kerajaan di abad ke-14 masih tersisa. Antara lain Museum Nasional Biblique Marc Chagall yang letaknya di atas bukit Cimiez. Ada juga Museum Massena, Museum Lascaris, Museum Matisse, dan Maritim Museum.

Kini Nice dijuluki sebagai kota jet zet. Para pengusaha dan selebritis ternama dunia menjadikan kota bertebaran pohon palm ini sebagai tempat berlibur. Mereka menghabiskan waktu dan uang di sini. Bahkan, para pelancong itu tak segan membangun kediaman permanen dari pada menginap di hotel atau apartemen yang tarifnya sangat mahal.

Bagi mereka yang berduit, Nice termasuk kota yang cocok untuk shopping. Di kota kecil ini bertebaran mal menyediakan aneka kebutuhan para turis dengan berbagai merk terkenal, seperti asesoris, pakaian, kaos, sepatu, jam, dan tas. Harganya, lumayan menguras euro. Ada juga kawasan dengan harga barang agak miring, yaitu Massena. Di kawasan ini, berjejer toko-toko sampai ke gang-gang yang tertata rapi menjual berbagai kebutuhan.

Mencari makanan di Nice tidaklah sulit, karena bertebaran kafe dan restoran dengan aneka hidangan. Yang harus menjadi perhatian adalah etika di meja makan. Karena jika pelayannya asli Prancis, tidak segan-segan menegur pengunjung yang dianggapnya sembarangan. Misalkan menaruh barang atau barang belanjaan di atas meja makan, si pelayan pasti mengomel dan langsung menurunkan dari atas meja. Alasan dia, kalau ada barang di atas meja bisa mengganggu selera makan. Serbet makan pun harus selalu dipangkuan, jika tidak ingin diomel pelayan.

Bagi umat Islam yang ingin makan daging halal tersedia restoran milik orang Maroko atau Timur Tengah. Menu andalannya adalah kebab. Sedangkan mereka yang ingin menikmati masakan Cina atau Thailand ada kawasan tersendiri yang lokasinya ke pelosok, agak jauh dari pantai. Restoran oriental ini selalu dipenuhi pengunjung dari kawasan Asia, karena mereka kangen makan nasi yang tidak ditemukan di restoran Prancis.

Selain Nice, di bagian selatan Prancis masih ada kota yang sayang jika dilewatkan, yaitu Cannes. Dari Nice kurang dari dua jam mengendarai mobil sudah tiba di Cannes. Seperti juga Nice, kota ini letaknya di pinggir pantai, berbukit-bukit, dan pelabuhannya dipenuhi kapal pesiar mewah. Tapi yang membuat Cannes popular di seluruh dunia bukan karena pantainya, melainkan gedung festival yang selalu dipakai sebagai ajang pertemuan selebritis dunia untuk menerima awards di bidang perfilman.

Gedung festival yang sangat luas ini terletak di pinggir laut. Berbagai festival film internasional diselenggarakan di hal ini. Tak heran kalau selebritis dunia pernah mampir ke Cannes. Ini terbukti penuhnya lantai tempat 'cap' tangan para artis ternama yang disediakan khusus di samping kiri hal.

Ketika mengunjungi kota sebelah tenggara Nice ini, tengah berlangsung Festival Film de Cannes. Pengunjung sangat membludak, antrean panjang terlihat di setiap pintu masuk. Mereka tertib dan rela menunggu berjam-jam. Bagi yang kurang beruntung (tidak bisa masuk gedung pertunjukan) mereka mencari posisi strategis di pinggir-pinggir jalan atau di seberang gedung. Tampaknya mereka sudah menyiapkan berbagai perlengkapan seperti kursi, payung, makanan, dan tangga untuk melihat kedatangan artis idolanya. Para penonton ini rela walaupun harus tidur di pinggir jalan.

Biasanya sebelum masuk gedung festival para artisakan fashion show dulu di hadapan penonton. Kesempatan ini selalu dinantikan dan menjadi ajang heboh bagi para pemburu berita maupun penonton.

Setiap ada moment penyerahan awards, Cannes bagaikan kota tak pernah tidur. Di setiap penjuru ramai dipadati para turis dari berbagai negara. Kesempatan ini dimanfaatkan oleg toko-toko di sekitar gedung festival menjual berbagai atribut/souvenir. Seperti kaus, topi, pin, tas, gantungan kunci, stiker, jaket, buku, korek api, pensil dan ballpoint. Walaupun harganya relatif mahal, tapi dagangan itu habis diburu pengunjung.

(susie evidia)