Friday, May 6, 2011

Potret Terindah dari Bali

Kisah hidup Ni Wayan Mertayani, gadis pemenang Lomba Foto Internasional Yayasan Anne Frank 2009 didokumentasikan melalui buku yang berjudul "Potret Terindah dari Bali". Buku ini disusun oleh Pande Komang Suryanita, seorang penulis di Denpasar, Bali. Ni Wayan Mertayani atau biasa dipanggil dengan nama Sepi, telah memenangkan lomba foto bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Anne Frank pada 2009 lalu.

Buku "Potret Terindah dari Bali" ditujukan untuk memberikan inspirasi bagi anak-anak Indonesia yang lain, bahwa sesulit apa pun kehidupan yang kini dijalani, mereka sebaiknya tetap memiliki mimpi dan cita-cita. Seperti Sepi atau Ni Wayan Mertayani, anak seorang pemulung di Bali yang bercita-cita untuk menjadi wartawati. Setiap kesempatan akan dimanfaatkannya sebaik mungkin. Bahkan foto karyanya yang telah memenangkan lomba foto internasional itu dibuatnya dengan menggunakan kamera yang dipinjamnya dari seorang turis asal Belanda.

Karya Ni Wayan Mertani, Juara Lomba Foto Internasional Yayasan Anne Frank 2009

KISAH GADIS PEMULUNG JADI JUARA LOMBA FOTO INTERNASIONAL

Kisah perjalanan hidup seorang gadis pemulung asal Bali bernama Ni Wayan Mertayani (16) yang menjuarai lomba foto internasional dari Museum Anne Frank, Belanda, dibukukan. Pande Komang Suryanita, penulis buku berjudul "Potret Terindah dari Bali" itu saat dihubungi di Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu, mengatakan buku itu diterbitkan Kaifa (grup Penerbit Mizan) pada awal Februari ini.

Materi buku mengungkapkan sisi kehidupan gadis yang biasa dipanggil dengan Ni Wayan atau Sepi itu. Penulis menguraikan secara detil bagaimana alur kehidupan Sepi yang begitu memilukan. Bermula dari kehilangan ayah dan rumah tinggal, Sepi bersama ibu dan adiknya, pindah ke sebuah gubuk di tepi Pantai Amed, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur.

Ni Wayan Mertayani

Di gubuk itu, Sepi menjalani hidup sebagai penjual makanan dan sesekali memulung barang bekas setelah pulang sekolah untuk dapat membantu ekonomi keluarga, terlebih ibunya dalam kondisi sakit-sakitan. Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan turis asal Belanda bernama Dolly yang meminjami kamera untuk belajar memotret.

Hasil "jepretan" Sepi kemudian didaftarkan oleh Dolly pada lomba foto internasional yang diadakan Yayasan Anne Frank di Belanda, dengan tema "Apa Harapan Terbesarmu". Tak disangka, foto Sepi yang berobjek ayam yang sedang bertengger di pohon singkong karet berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan 200 peserta lain dari berbagai negara.

Menurut Pande Komang Suryanita, objek foto Sepi berupa ayam, merupakan representasi diri Sepi. Bila hujan ia kehujanan begitu juga kala panas menyengat karena kondisi gubuk yang ditempatinya begitu memprihatinkan. "Namun, cerita hidup Sepi bukan bermaksud mencari simpati dari pembaca tentang nasib kurang beruntung yang dialaminya. Justru, kisah itu kami angkat menjadi buku, dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia agar tidak pernah menyerah dalam menjalani hidup," ujar Suryanita.

Kisah hidup Sepi, lanjut Suryanita, terbukti amat inspiratif karena dalam kondisi hidup serba kekurangan, Sepi tak pernah berhenti berupaya agar roda hidupnya bergulir menjadi lebih baik. Tak berbeda dengan kisah hidup Anne Frank, yakni seorang gadis Yahudi yang bertahun-tahun hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan diri dari tentara Nazi, yang menjadi tokoh idola bagi Sepi. Dalam persembunyian, Anne menulis dalam buku harian tentang cita-cita yang ingin diraihnya kalau keadaan sudah aman.

Buku "Potret Terindah dari Bali" sekaligus ingin mengungkapkan bahwa mimpi atau cita-cita dapat menjadi kekuatan seorang anak agar dapat menjalani hidup, sesulit apapun, kata Suryanita. "Seperti halnya yang dialami Sepi. Mimpi dan cita-citanya menjadi jurnalis, membuatnya tak pernah putus asa. Hidupnya yang sulit bukan membuatnya tak bisa berkelit," ujar penulis yang menetap di Denpasar itu. www.antaranews.com