Thursday, May 6, 2010

Selarik Doa Buat Suci


Dengus nafas Suci terdengar teratur. Sesekali, gumaman lirih keluar dari bibirnya yang mungil. Beralaskan tikar plastik dan selembar kain sarung yang terlihat agak kusam, bocah berumur 13 bulan itu nampak lelap dalam tidurnya. Tak ada yang aneh dari sosok Suci. Namun jika melihat ke arah perutnya, kita akan terhenyak dan iba. Sebuah benjolan sebesar kepalan tangan orang dewasa terlihat menggantung.
Lian, ibu Suci, nampak setia menemani buah hatinya. Tangannya sesekali bergerak mengipas mengusir nyamuk nakal. ”Sedih sekali melihat kondisinya pak,” ujar Lian sambil menghapus butiran air mata di pipinya.

Lian bertutur, kondisi tersebut sudah dialami Suci sejak lahir 13 bulan lalu. Suci dilahirkan di Kecamatan Maligano, Kabupaten Muna atau tepatnya di rumah kakeknya, orang tua Lian. Saat dilahirkan, ada kelainan di tubuh Suci. Ususnya terburai keluar.

Suci lalu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulawesi Tenggara. Namun kondisi ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan, bayi malang itu akhirnya dibawa pulang. Ironisnya, kedua orang tua Suci tak punya rumah di Kendari. Lian hanya seorang ibu rumah tangga, sedang suaminya, Syukur, berprofesi sebagai pekerja serabutan. Mereka akhirnya ditampung di rumah kontrakan kerabatnya.

Dua bulan kemudian, perut Suci mengalami infeksi dan muncul benjolan. Perawatan seadanya diberikan kepada Suci. Belakangan, benjolan itu makin membesar. Saat ini, benjolan itu sudah sebesar kepalan tangan orang dewasa. ”Kami hanya bisa berdoa pak. Kami tidak mampu membawa Suci berobat ke dokter,” ujar Lian makin terisak.

Derita Suci dan orang tuanya lalu menyebar dari mulut ke mulut hingga ke telinga para pewarta di Kendari yang kemudian ramai memberitakannya. Sehari, dua hari, hingga sepekan berselang belum ada respon atas pemberitaan tentang derita Suci.

Kabar gembira yang ditunggu akhirnya muncul hampir dua pekan kemudian. PT Panca Logam Makmur (PLM) menyatakan bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan Suci hingga sembuh. Bersama Manager CSR, Maman Resman dan sejumlah stafnya, Direktur Informasi dan Komunikasi Publik, Lukman Aziz Kurniawan, mewakili pimpinan PT PLM bertandang ke rumah Suci di jalan Haeba Atas, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari.

Selain menyerahkan sejumlah bantuan langsung, Lukman juga menyatakan bahwa perusahaan tempatnya bekerja bersedia menanggung biaya pengobatan Suci. ”Mau dirawat di Makassar atau di Jakarta terserah bapak dan ibu, yang jelas kami siap menanggung seluruh biayanya,” kata Lukman kepada Lian dan Syukur.

Wujud keseriusan niat dari PT PLM, Lukman meminta stafnya mendatangkan mobil ambulance dan memboyong Suci ke RSUD Sulawesi Tenggara. Hasil diagnosa tim dokter RSUD Sulawesi Tenggara, Suci menderita penyakit Hernia Umbikalis (bagian perut yang tidak tertutup sempurna). Namun sayang, RSUD Sulawesi Tenggara ternyata tak memiliki fasilitas untuk menangani penyakit seperti yang dialami Suci.

Atas saran tim dokter RSUD Sulawesi Tenggara, Suci akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Akademis Jaury Yusuf Putra di Kota Makassar. Di rumah sakit yang didirikan oleh almarhum Jenderal Muhammad Yoesoef itu, tim dokter yang diketuai dr. Ahmad Wirawan, Sp.B, Sp.BA, mendiagnosis Suci mengidap Omfalokel (usus keluar), sebuah penyakit bawaan dengan sebagian rongga perut tidak tertutup saat lahir. Satu-satunya jalan untuk mengobatinya hanya melalui operasi.

”Memang sangat tipis perbedaannya dengan hernia umbilikalis" jelas dr Ahmad.

Namun Suci tak serta merta bisa langsung diobati saat itu juga. Tim dokter tidak mau gegabah. Pasalnya, dari hasil pemeriksaan fisik, tubuh Suci tak berada dalam kecukupan nutrisi yang ideal. Di usia 13 bulan, berat badannya hanya mencapai 9 kilogram. Operasi baru bisa dilakukan jika berat tubuhnya telah dianggap ideal oleh tim dokter.

Suci pun akhirnya dibawa pulang kembali ke Kendari. PT PLM mentargetkan, waktu tiga bulan berat badan dan kandungan nutrisi di tubuh Suci akan berada dalam kondisi ideal. Tak hanya itu, PT PLM juga menyiapkan dokter untuk memantau kondisi Suci.

Ramainya pemberitaan soal Suci, membuat sejumlah anggota DPRD Sulawesi Tenggara ikut bersimpati. Beberapa diantaranya bahkan menyatakan menanggung seluruh biaya perbaikan gizi dan nutrisi Suci hingga siap naik ke meja operasi.

Atas segala bantuan ini, asa Suci untuk sembuh makin menguat. Tidurnya pun makin nyenyak. Melihat bocah mungil itu terlelap, hati terasa sesak. Selarik doa terlantun dari kami, “Cepat Sembuh Ya Nak. Kami Semua Sayang Kamu”.